PASANG IKLAN RP 300.000
500 px X 90 px SMS ke 0856 243 87929

MURAH...!
PASANG IKLAN DI BLOG INI??
Kunjungi juga blog kami berikut : | kaligrafer.com | infobocor | sehatbocor | Al-alief |
Untuk membuka webblog Lemka klik disini

MURAH...!
PASANG IKLAN DI BLOG INI??
Kunjungi juga blog kami berikut : | kaligrafer.com | infobocor |sehatbocor | Al-alief |

MAQOM KALIGRAFI DALAM SENI RUPA

Pembicaraan tentang seni kaligrafi telah sampai ke tingkat yang sangat bergemuruh. Dimulai dari sejak ayat-ayat Alquran pertama yang berkenaan dengan ‘perintah baca tulis’ sampai masa-masa paling kiwari saat aksara telah beradaptasi dan jadi bagian yang lebih integral dengan ragam garapan seni rupa moderen.


Di zaman pertengahan Islam, seni kaligrafi diajarkan di institusi-institusi pendidikan khusus yang bernama Madrasah Tahsin al-Khutut Al-‘Arabiyah sebagai subyek kurikulum wajib. Para pelajar berbakat yang prospektif dan menonjol memperoleh pelajaran spesial dari para master kaligrafi. Sejak itu, kaligrafi berkembang pesat dan dtuangkan dalam rupa-rupa garapan di aneka media untuk menyalin mushaf Alquran, naskah transaksi dan dokumen, monumen arkeologis, dekorasi interior, iluminasi perabotan rumah, sarana-sarana advertensi, dan lukisan-lukisan di muka media yang lain.


Yang lebih penting di sini, selain telah sejak lama masuk ke dalam lingkup seni rupa, kecenderungan minat dan perkembangan kaligrafi yang pesat bukan semata “pelarian” dari larangan menggambar di periode awal Islam sebagai satu-satunya alasan fiqhiyah, melainkan karena kedudukannya yang dianggap melebihi maqom seni menggambar landscape yang juga sangat populer di dunia Islam. Lebih jauh, kaligrafi diangkat sebagai art of Islamic art (seninya seni Islam) karena fungsinya sebagai bahasa visual dari ayat-ayat suci.


Kaligrafi juga sangat fleksibel dan lebih mampu menerjemahkan pemikiran abstrak (untuk itu kaligrafi disebut pula seni abstrak atau seni tawhid) untuk tujuan-tujuan apresiasi dan ekspresi. Agaknya, kaligrafi yang dirasakan oleh para khattat dan pelukis “mempunyai pelbagai kemungkinan untuk membentuk huruf-huruf sebagai penafsiran garis yang bersambungan”, memberikan daya tarik tersendiri kepada para seniman.


Huruf adalah lambang bunyi. Bila bunyi-bunyi digabungkan, maka makna pun timbul. Sebab itu pula kaligrafi disebut lisan al-yadd (lidahnya tangan), karena dengan tulisan itulah tangan berbicara. Dalam pelbagai metafora, kaligrafi juga dilukiskan sebagai kecantikan rasa, duta akal, penasihat pikiran, senjata pengetahuan, penjinak saudara dalam pertikaian, pembicaraan jarak jauh, penyimpan rahasia dan rupa-rupa masalah kehidupan, ringkasnya”kaligrafi adalah ruh di dalam tubuh” seperti dikatakan sebagian ulama. Pesan yang sama timbul dari sebuah karya seni rupa: ada sesuatu yang digoreskan, unsur garis, dan pesan-pesan.


Sangat jelas, meskipun pada awalnya sederhana, kaligrafi Islam sat ini tidak cukup dianggap hanya sebagai unsur tambal, pelengkap, atau penghias sebuah lukisan semata, melainkan telah benar-benar jadi “jasad dari ruh” seni rupa. Terlebih dengan munculnya beberapa perubahan ekstrim yang kerap hadir di lapangan kaligrafi Arab waktu-waktu terakhir (yang melahirkan kaligrafi kontemporer mengikuti arus perkembangan seni rupa kontemporer dunia).


Cara lain mendekatkan kaligrafi ke unsur (dan jadi bagian dari) seni rupa adalah kenyataan hasil usaha para mpu kaligrafi (yang dimotori Ibnu Muqlah dari Baghdad) untuk menorehkan huruf dengan senantiasa mengikuti prinsip-prinsip desain yang mencakup: kontras, balans, proporsi, ritme (irama) dan kesatuan (unity).


Dalam istilah yang sedikit berbeda, Ibnu Muqlah mengungkapkan prinsip-prinsip desain kaligrafi sebagai berikut: taufiyah (selaras), itmam (tuntas, unity), ikmal (sempurna, perfect), isyba’ (parallel, proporsi), dan irsal (lancar). Prinsip-prinsip ini sebenarnya tidak jauh dari tatacara penulisan yang ideal sebagaimana dikemukakan Rasulullah saw kepada Abdullah ibn Umar:


“Wahai Abdullah, renggangkanlah jarak spasi, susunlah huruf-huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi dalam bentuk-bentunya, dan berilah setiap huruf hak-haknya.”


Ketergantungan pada prinsip geometri dan aturan keseimbangan (yang disebut al-khat al-mansub alias kaligrafi berstandar) pada gaya-gaya khat klasik seperti Naskhi, Sulus, Diwani, Farisi, Kufi, Rayhani, dan Riq’ah, hingga aliran “pembebasan” dari prinsip baku dalam gaya-gaya kontemporer (yaitu kaligrafi kontemporer tradisional, figural, ekspresionis, simbolis, dan abstrak) masih saja berada dalam pagar prinsip seni rupa, karena aturan dan teknik pengerjaannya tidak semata terletak pada teknik penulisan (atau tidak hanya selesai pada huruf), tetapi juga pada pemilihan warna, bahan tulisan, medium, hingga pena atau kuas sebagai instrumen tulisan, bahkan biasanya sampai pemilihan ayat yang harus sesuai dengan pesan-pesan lukisan secara keseluruhan.


Kesempurnaan syarat-syarat tersebut semakin menegaskan hakikat kaligrafi yang harus tampil indah fisik dan batin atau pesan-pesan yang dikandungnya, seperti dinyatakan khattat Yaqut Al-Musta’simi:


“Kaligrafi adalah ilmu ukur spiritual yang lahir via perabot kebendaan.”


Dengan penyebarannya yang meluas di kalangan seniman dan individu, atau melalui media pameran, artefak, dan lembaga-lembaga, seni kaligrafi semakin mantap menempatkan dirinya dalam nuansa seni rupa klasik dan moderen yang terus berkembang di seluruh dunia

SUMBER : http://sirojuddinar.blogspot.com/2008/11/maqom-kaligrafi-dalam-seni-rupa.html

MUTIARA HIKMAH KALIGRAFI

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
QS Al-‘Alaq/96: 1-5

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.”
(QS Al-Qalam/68: 1)

Katakanlah: “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku,
maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
(QS Al-Kahf/18: 109)

“Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS Luqman/31: 27)

“Allah telah menciptakan nun, yakni dawat (tinta).”
(HR Abu Hatim dari Abu Hurairah)

Setelah Allah menciptakan nun, yakni dawat (tinta) dan telah menciptakan pula kalam pena), lantas Dia bertitah: “Tulislah!” Jawab kalam: “Apa yang hamba tulis?” Jawab Allah: “Tulislah semua yang ada sampai hari kiamat.”
(HR Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas)

Yang mula-mula diciptakan Allah ialah kalam, lalu diperintahkan Allah supaya dia menulis. Maka bertanyalah dia kepada Tuhan: “Apa yang mesti hamba tuliskan, ya Rabbi?” Allah menjawab: “Tulislah segala apa yang telah Aku takdirkan sampai akhir zaman.”
(HR Imam Ahmad bin Hanbal dari A-Walid bin Ubbadah bin Samit)

“Ikatlah ilmu dengan tulisan! Ilmu itu adalah buruan, tulisan adalah talinya”
(HR Tabrani dalam Al-Kabir)

“Ilmu adalah buruan, tulisan adalah talinya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kukuh!”
Imam Syafi’i)

Kepada orang yang mengeluhkan kesulitan hapalannya, Rasulullah SAW menasihatkan:
“Bantulah dengan tangan kananmu untuk memperkuat hapalanmu.”
HR Turmuzi)

“Khat yang indah menambah kebenaran semakin nyata.”
(HR Dailami dalam Musnad al-Firdaus)

“Di antara kewajiban orangtua atas anaknya adalah: mengajarinya menulis,
memperbagus namanya, dan mengawinkannya apabila telah dewasa.”
(HR Ibnu Najjar)

Kepada sekretarisnya Rasulullah SAW menyarankan:
“Apabila engkau menulis, taruhlah pulpenmu di telingamu, karena cara itu memberimu konsentrasi penuh.”
(HR Ibnu Asakir di dalam Tarikhnya)

Kepada sekretarisnya, Muawiyah ra, Rasulullah SAW menyarankan: “Tuangkan tinta, raut-miringkan pena, tepatkan posisi ba’, renggangkan sin, jangan sumbat mim, indahkanlah Allah,
panjangkan Ar-Rahman, dan baguskan Ar-Rahim.”
(HR Al-Qadi Iyad dari Ibnu Abi Sufyan dalam Al-Syifa’)

Kepada Abdullah Rasulullah SAW mengingatkan: “Wahai Abdullah, renggangkan jarak spasi, susunlah huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi bentuk-bentuknya, dan berilah setiap huruf hak-haknya.”
(Al-Hadis)

“Barangsiapa meninggal dunia, sedangkan warisannya adalah catatan dan tinta, ia niscaya masuk surga.”
(HR Dailami dalam Irsyad al-Qulub)

“Barangsiapa meraut pena untuk menulis ilmu, maka Allah akan memberinya pohon di syurga
yang lebih baik daripada dunia berikut seluruh isinya.”
(Al-Hadis)

“Khat /kaligrafi adalah tulisan huruf Arab tunggal atau bersusun yang berpedoman kepada keindahan sesuai dengan sumber-sumber dan peraturan-peraturan seni yang telah diletakkan dasar-dasarnya
oleh para tokoh di bidangnya.”
(Muhammad Tahir al-Kurdi al-Makki dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)

“Kaligrafi adalah tradisi yang diperindah gerakan jemari dengan pena
berdasarkan kaedah-kaedah khusus.”
(Muhammad Tahir al-Kurdi al-Makki dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)

“Khat/kaligrafi adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan tatacara merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di atas garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis,
serta menggubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan cara menggubahnya.”
(Syeikh Syamsuddin al-Akfani dalam Irsyad al-Qasid bab “Hasyr al-Ulum”)

“Kaligrafi itu tersirat dalam pengajaran guru, tegak profesionalnya tergantung banyak latihan, dan kelanggengannya pada pengamalan agama Islam.”
(Ali bin Abi Talib)

“Keindahan kaligrafi tersembunyi dalam pengajaran guru, tegak profesionalnya tergantung banyak latihan
dan menyusun komposisi, dan kelanggengannya bagi seorang muslim adalah dengan
meninggalkan segala larangan dan menjaga salat, padahal asal-usulnya hanyalah
mengetahui huruf tunggal dan huruf sambung.”
(Ali bin Abi Talib)

“Kaligrafi adalah arsitektur spiritual walaupun lahir dengan perabot kebendaan.”
(Euclides)

“Kaligrafi adalah ilmu ukur spiritual yang diekspresikan melalui peralatan material. Apabila engkau perbagus penamu, berarti kau perbagus kaligrafimu; namun apabila engkau abaikan penamu,
berarti telah kau abaikan kaligrafimu.”
(Aminuddin Yaqut al-Musta’simi dari Bani Abbas)

“Tulisan adalah lidahnya tangan, karena dengan tulisan itulah tangan berbicara.”
(Ubaidullah bin Abbas)

“Kaligrafi itu lembut seperti awan yang berarak-arakan dan gagah seperti naga yang sedang marah.”
(Wang Hsichih)

“Kaligrafi adalah pengikat akal pikiran.”
(Plato)

“Kaligrafi itu adalah akar dalam ruh walaupun lahir melalui peralatan materi.”
(Al-Nazzam)

“Pena bagi seorang penulis bagaikan pedang bagi seorang pemberani.”
(Ibnu Hammad)

“Akal manusia utama berada di ujung penanya.”
(Garar al-Hikam)

“Kalau bukan karena pena, dunia tidak akan berdiri, kerajaan tidak akan tegak.”
(Iskandar Zulkarnain dari Macedonia)

“Kaligrafi adalah lukisan dan bentuk harfiyah yang menunjukkan kepada kalimat yang didengar
yang mengisyaratkan apa yang ada di dalam jiwa.”
(Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah)

“Persoalan agama dan dunia berada di bawah dua hal: pena dan pedang. Pedang berada di bawah pena.”
(Raja-raja Yunani dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)

“Apabila, suatu hari, para pahlawan pemberani bersumpah
Dengan pedang mereka sambil menghunuskannya:
Demi keagungan, demi kemuliaan.
Cukuplah pena penulis sebagai kemuliaan dan ketinggian sepanjang abad,
Sebagaimana Allah pernah bersumpah: demi kalam!”
(Abu al-Fath al-Busti dalam Seni Kaligrafi Islam)

“Kaligrafi adalah produk kebudayaan yang menguat dengan kekuatan kebudayaan
dan melemah dengan lemahnya kebudayaan.”
(Abdul Fattah Ubbadah dalam Intisyar al-Khat al-‘Arabi fil ‘Alam al-Syarqi wal ‘Alam al-Gharbi)

“Apabila kata-kata merupakan makna yang bergerak, sebaliknya tulisan adalah makna yang bisu.
Namun, kendatipun bisu, ia melakukan perbuatan bergerak karena isinya yang mengantarkan penikmatnya kepada pemahaman.”
(D. Sirojuddin AR dalam Seni Kaligrafi Islam)

“Alquran adalah yang pertama kali mengangkat mercusuar kaligrafi Arab.”
(Abdul Fattah Ubbadah dalam Intisyar al-Khat al-‘Arabi fil ‘Alam al-Syarqi wal ‘Alam al-Gharbi)

“Alat kata-kata adalah lidah, sedangkan alat tulisan adalah pena atau kalam. Keduanya berbuat untuk kepentingan satu sama lain guna mengekspresikan makna-makna final.”
(D. Sirojuddin AR dalam Seni Kaligrafi Islam)

“Satu gaya kaligrafi sudah ditentukan secara ketat aturan-aturannya. Keserasian antar huruf, merangkai, komposisi, sentakan, bahkan jarak spasi mesti diukur dengan serasi. Jika tidak, hasilnya ngawur.”
(Prof. H.M. Salim Fachry, nasihat kepada muridnya, D. Sirojuddin AR)

“Khusus bagi para pelukis yang kurang mengenal tulisan Arab dihimbau agar hendaknya meneliti lebih cermat khususnya ayat-ayat Alquran, juga teks-teks Arab lainnya sebelum digalok dengan lukisan mereka. Dengan demikian, tidak akan terjadi salah tulis atau kekeliruan imla’”
(K.H.M. Abd. Razaq Muhili ,nasihat kepada muridnya, D. Sirojuddin AR)

“Tulisan jelek, jika diikuti oleh kaedah imla’iyah yang betul masih bisa dimaafkan. Sebaliknya, jika kekeliruan terletak pada kaedah imla’iyah, maka itu barulah benar-benar suatu kesalahan. Bahayanya, jika itu terjadi pada penulisan ayat-ayat Alquran, sebab akan menyimpang dari arti yang sesungguhnya.”
(K.H.M. Abd. Razaq Muhili, nasihat kepada muridnya, D. Sirojuddin AR)

“Kaligrafi dianggap benar apabila memiliki lima prinsip disain, yaitu: taufiyah (selaras), itmam (tuntas, unity), ikmal (sempurna, perfect), isyba’ (paralel, proporsi), dan irsal (lancar, berirama).”
(Ibnu Muqlah dalam Subhul A’sya)

“Tata letak yang baik (husnul wad’i) kaligrafi menghendaki kepada perbaikan empat hal, yaitu: tarsif (formasi teratur seimbang, balance), ta’lif (tersusun, arranged), tastir (selaras, beres, regular), dan tansil (maksudnya bagaikan pedang atau lembing saking indahnya, excellent).”
(Ibnu Muqlah dalam Subhul A’sya)

“Seperempat tulisan ada pada hitam tintanya,
Seperempat: indahnya hasil cipta penulisnya.
Seperempat datang dari kalam,
Engkau serasikan potongannya.
Dan pada kertas-kertas,
Muncul nilai keempat.”
(Senandung Putaran Empat Perempat dalam Belajar Kaligrafi: Terampil Melukis Jld. 7)

“Hendaknya kamu belajar kaligrafi yang bagus, karena dia termasuk kunci-kunci rezeki.”
(Ali bin Abi Talib)

“Pelajarilah kaligrafi yang betul,
Wahai orang yang memiliki akal budi,
Karena kaligrafi itu tiada lain
Dari hiasan orang yang berbudi pekerti.
Jika engkau punya uang,
Maka kaligrafimu adalah hiasan.
Tapi jika kamu butuh uang,
Kaligrafimu, sebaik-baik sumber usaha.”
(Al-Hafizh Usman dari Turki Usmani)

“Kaligrafi adalah harta simpanan si fakir dan hiasan Sang Pangeran.
Betapa kerap kaligrafi benar-benar menambah kejelasan dengan kekuatan mengelokkan tinta.”
(Syair Arab dalam Disain Pelajaran Kursus Kaligrafi I)

“Kaligrafi akhirnya jadi lapangan bisnis yang luas dan mendapat tempat yang istimewa yang belum pernah dicapai sebelumnya, baik di kalangan periklanan, informatika, maupun brosur-brosur niaga
dan lembaga-lembaga non profit yang menyebar dengan aneka warna.”
(Kamil al-Baba dari Libanon dalam Ruh al-Khat al-‘Arabi)

“Muliakanlah anak-anakmu dengan belajar menulis, karena tulisan adalah perkara paling penting
dan hiburan paling agung.”
(Ali bin Abi Talib)

“Seorang kaligrafer jenius melihat pada apa-apa yang tidak kelihatan oleh para kaligrafer biasa.”
(Kamil al-Baba dari Libanon dalam Ruh al-Khat al-‘Arabi)

“Kaligrafi, dia adalah lukisan huruf, posisinya tidak pernah mandek, bahkan terus berkembang menyusuri waktu. Maka, kita sekarang tidak lagi menulis khat Kufi primitif yang ditulis orang Arab dulu-dulu.
Kita telah terbiasa dengan tulisan yang telah banyak berkembang melintasi
masa-masa Islam yang saling berganti.”
(Kamil al-Baba dari Libanon dalam Ruh al-Khat al-‘Arabi)

“Saya tidak mau menghambat dinamika atau dynamic dari kaligrafi, form of kaligrafi itu. Tetapi saya bisa bebas dengan hanya menggambar karakter huruf itu saja, ada yang melengkung, ada yang tegak, ada yang ke kiri, ada yang ke kanan, dengan titik, dengan lengkungan-lengkungan yang sangat ekspresif.”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)

“Dengan mengambil tulisan Arab itu, sudah dibawa kita kepada ikon tertentu, dunia tertentu,
yaitu spiritual, meditatif, kontemplatif….”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)

“Huruf bagi saya adalah materia hidup yang saya olah sekehendak saya kapan saya mau.”
(Naja al-Mahdawi dari Tunisia dalam Fikrun wa Fannun)

“Semua huruf, bila engkau perhatikan,
Maka bagian-bagiannya tersusun dari noktah.
Bentuk seluruh huruf terambil
Dari satu bentuk alif yang dibolak-balik.
Sehingga engkau lihat bangunannya
Memiliki rumus-rumus yang menyeluruh.
Maka, pandanglah dengan mata hati
Supaya engkau memperoleh pelajaran.”
(Syair Arab dalam Cara Mengajar Kaligrafi: Pedoman Guru)

“Melukis bagi saya adalah hiburan. Apalagi saat huruf-huruf Alquran itu senyawa dengan cat, terasa ada nilai plus dan kenikmatan luarbiasa. Lebih nikmat daripada sekedar curat-coret dengan tinta cina hitam di atas kertas putih. Saya sadar, seorang khattat harus juga seorang pelukis. Harus….”
(D. Sirojuddin AR dalam Belajar Kaligrafi: Terampil Melukis, Jld. 7)

“Sesungguhnya aku melukis kaligrafi dan tidak menulisnya.”
(Muhammad Sa’ad Haddad dari Mesir dalam Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam)

“So, I sacrified myself, saya batasi ekspresi-ekspresi bebas saya itu, tapi saya kembalikan kepada nilai-nilai yang saya bisa gali secara lebih banyak dan secara lebih berbobot dari Alquran itu sendiri…. Saya menanam ke dalam lukisan-lukisan suatu konsep berfikir atau suatu nilai-nilai lain yang filosofis, yang membuat orang itu bisa lebih menikmatinya. Aesthetic pleasure dan ethical pleasure together.”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)

“Tampilan kaligrafi harus hidup dan bergerak, sebagaimana sebagian huruf ingin saling rangkul atau bebas ketika sedang berpegangan atau saling sokong satu sama lain. Apabila bentuknya miskin dari sifat dinamis tersebut, menjadilah ia kering dan membosankan mata. Sebaliknya, engkau pasti ingin melihat yang bentuknya menyenangkan, sangat elok, atau memberi kesan penuh khayal.”
(Hassan Massoudy dari Perancis dalam Hassan Massoudy Calligraphe)

“Sebuah lukisan akan memiliki nilai plus dengan penyusupan unsur kaligrafi ke dalamnya. Jika temanya ayat-ayat Alquran, maka nilai plus itu akan terasa semakin agung, karena memancarkan pesan-pesan suci yang dalam yang dapat dijadikan bahan renungan, baik oleh pelukis maupun orang lain yang jadi peminatnya.”
(D. Sirojuddin AR dalam Belajar Kaligrafi: Terampil Melukis, Jld. 7)

“Keindahan kaligrafi adalah anugerah Allah dan setiap kaligrafer telah mendapatkan bagiannya masing-masing berdasarkan pembagian Allah. Maka, tidak boleh saling bertarung dengan karya orang lain atau mengejek akibat salah paham, karena itu semua adalah bagiannya yang diterimanya dari Allah.”
(Sayid Abdul Kadir Abdullah bergelar Haji Zaid dari Mesir dalam Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam)

“Aku melihat bahwa manusia tidak menggores suatu tulisan di suatu hari, kecuali besoknya berkata: Kalau ini dirubah tentu lebih baik, kalau ditambah ini dan itu pasti lebih bagus lagi, kalau ini yang didahulukan mungkin lebih afdal, bila ini ditinggalkan pasti lebih indah. Ini ungkapan paling sering,
dan hanya menunjukkan rasa kekurangan pada kebanyakan manusia.”
(Al-Imad al-Asfahani dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)

“Prestasi seni rupa Muslim yang sukses luarbiasa, terbesar dan paling akrab dengan jiwa kaum Muslim adalah kaligrafi (seni menulis indah). Kaum Muslimin memilih kaligrafi sebagai media utama pernyataan rasa keindahannya karena tak ada bentuk seni lainnya yang mengandung abstraksi yang demikian lengkap dan mutlak.”
(Isytiaq Husain Quresyi dalam Seni di dalam Peradaban Islam)

“Kaligrafi adalah kebun raya ilmu pengetahuan.”
(Abu Dulaf al-‘Ajli dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)

“Kaligrafi adalah seni suci, karena dengan kaligrafi inilah Alquran, wahyu Allah diteruskan kepada manusia…. Kaligrafi Arab juga mempunyai makna estetis ikonographis dalam seni peradaban Islam.”
(M. Abdul Jabbar Beg dalam Seni di dalam Peradaban Islam)

“Pena adalah kendaraan kecerdikan. Dengan tangis pena, buku-buku tersenyum.”
(Al-Utabi dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)

“Tetesan airmata seorang gadis cantik di pipinya tidaklah lebih indah daripada tetesan tinta di pipi buku.”
(Ahmad bin Yusuf dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)

“Jangan kalian sangka bahwa keindahan kaligrafi membahagiakan saya,
Tidak pula kedermawanan kedua telapak tangan Si Hatim Al-Tha’i.
Saya hanya membutuhkan satu hal,
Yaitu untuk memindahkan noktah huruf kha’ kepada tha’.”
(Syair Arab dalam Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam)
Khat=tulisan, hazh=penghasilan

“Wahai para penulis, berlomba-lombalah dalam memperindah aspek-aspek sastra, pahamilah agama, mulailah dengan mempelajari ilmu kitab Allah lalu bahasa Arab, karena ia menjadi pemanis bahasamu, kemudian perbaikilah tulisanmu karena ia sebagai penghias kitab-kitabmu, riwayatkanlah syair-syair, kenalilah keunikan dan makna-maknanya, kenalilah hari-hari orang Arab dan non Arab, kejadian-kejadian dan perjalanan hidup mereka karena yang demikian akan mendukung tercapainya cita-citamu.”
(Abu Hamid al-Katib, wasiat kepada orang-orang seprofesinya dalam Al-Balaghah al-Wadihah)

“Di dalam kebenaran ada kebaikan dan keindahan, di dalam keindahan ada kebenaran dan kebaikan.”
(Dany Huisman dalam ‘Ilm al-Jamal)

“Alquran turun bukan berdasarkan huruf, tapi bunyi. Sedangkan huruf-hurufnya datang dan dimodifikasi setelah Alquran turun. Dan huruf itu mengikuti pola-pola bunyi, bukan bunyi mengikuti huruf. Maka, huruf berhak untuk diubah-ubah, sementara bunyi Alquran tidak bisa diubah-ubah. Sekiranya mazhab-mazhab kaligrafi itu bertambah subur, maka itulah kondisi yang lebih bagus.”
(D. Sirojuddin AR dalam Jurnal Islam 2001)

“Kaligrafi, agaknya, sangat mudah membias pada seluruh karya seni bahkan segala perabotan yang serba Islami. Dan, anak-anak muda seperti sangat ‘keranjingan’ terhadap kegiatan yang serba kaligrafi.”
(D. Sirojuddin AR dalam Seni Kaligrafi Islam)

“Karena tulisan itu mempunyai dua aspek: aspek komunikatif dan aspek ekspresif…. Kedua aspek ini dalam sebuah lukisan saya menjadi satu dan tidak bisa dipisahkan…. Keduanya simultan lahir di dalam kanvas dan saling mendukung secara struktur.”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)

“Penjelasan di lidah, kaligrafi di penjelasan. Kaligrafi adalah salahsatu dari dua lidah, keindahannya adalah salahsatu dari dua kefasihan. Sungguh mengagumkan: pena minum kegelapan dan melafalkan cahaya.”
(Abdul Hamid al-Katib dalam Al-Balaghah al-Wadihah)

“Kaligrafi adalah lidahnya tangan, kecantikan rasa, duta akal, penasihat pikiran, senjata pengetahuan, penjinak saudara dalam pertikaian, kawan bicara jarak jauh, penyimpan rahasia, dan gudang rupa-rupa permasalahan.”
(Ibrahim bin Muhammad al-Syaibani dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)

“Seorang penulis kaligrafi membutuhkan atribut, di antaranya adalah bagusnya rautan kalam, pemanjangan ruasnya, tingkat kemiringan potongannya; kepiawaiannya menggoyang jemari, menorehkan tinta menurut kadar kelebaran huruf, menjaganya dari kekosongan tinta, penutulan tanda baca pada khat serta peneraan noktah untuk teks, sampai keserasian goresan dan manisnya penggalan sub-sub.”
(Al-Hasan bin Wahab dalam Falsafatu al-Fann ‘inda al-Tauhidi)

“Agama Islam melarang untuk merepresentasikan wajah Allah atau Nabi Muhammad dan tubuh manusia dalam beberapa situasi. Karena itu, kaligrafi menjadi elemen dekorasi paling dasar
di masjid dan seluruh monumen yang lain.”
(Georges Jean dalam Writing The Story of Alphabets and Scripts)

“Seorang kaligrafer sebaiknya mengerti bahasa Arab. Pemahaman bahasa Arab itu menjadi lebih penting, karena hampir semua kaligrafer, dengan sendirinya, akan berhubungan dengan Alquran.
Salah titik saja, bisa berakibat fatal.”
(D. Sirojuddin AR dalam Republika 1995)

“Tidak hanya menggoreskan pena atau mencampur warna, saya juga telah menganggap khat sebagai ilmu pengetahuan yang harus ditekuni dengan sepenuh hati dan akal. Ternyata, yang saya temukan hanyalah pertanda bahwa ilmu Allah itu memang tidak pernah kering.”
(D. Sirojuddin AR dalam Panji Masyarakat 1999)

“Gagasan untuk menggoreskan pena atau kuas seakan-akan tidak habis-habisnya. Terus-menerus terbuka kemungkinan baru untuk berekspresi. Huruf-huruf Arab seakan menjadi materi hidup
yang sangat plastis dan acapkali di luar perhitungan.
Di depan kanvas, saya seolah-olah berada di tengah padang yang tak bertepi.”
(Didin Sirojuddin AR dalam Panji Masyarakat 1999)

“Kaligrafi kekal sepanjang masa setelah kepergian penulisnya,
meskipun penulis kaligrafi terpendam di bawah tanah.”
(Al-Hafizh Usman dari Turki Usmani dalam Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam)

“Telah pupus raja kaligrafi,
Pena-pena melipatkan benderanya karena duka atas kepergiannya.
Dan melipatgandakan keluh tempat berpijak,
Setelah kemegahan lama tergenggam di tangannya.
Karena itu telah kukatakan di dalam tarikhnya:
Zuhdi telah meninggal, semoga rahmat Allah atasnya.”
(Syair atas kepulangan al-khattat Abdullah Zuhdi dari Turki Usmani dalam Al-Wasit fil Adab al-‘Arabi wa Tarikhikhi)

“Pabila setengahmu hapus nyawa nangislah sisanya,
Sebab satu sama lain akrab senantiasa.
Bukan ku ‘lah muak hidup di dunia
Tapi, kepalang kudipercaya sumpah mereka
Maka, cerailah tangan kananku tercinta.
Kujual kepada mereka agamaku dengan duniaku,
Namun mereka halau aku dari dunia mereka
Sesudah mereka gasak agamaku.
Kugoreskan kalam sekuat tenagaku ‘tuk melindungi nafas-nafas mereka.
Duhai malangnya…. bukannya mereka melindungiku!
Tiada ni’mat dalam hidup ini
Sesudah senjata kananku pergi tiada arti.
Duh hayatku nan malang tangan kananku telah hilang.
Hilanglah, segala arti tergusur hilang.”
(Ibnu Muqlah sesudah tangan kanannya dipotong karena fitnah dalam Al-Wasit fil Adab al-‘Arabi wa Tarikhikhi)

“Dengan bisa membaca dan bisa menulis itu, sebenarnya manusia tidak boleh bodoh. Manusia itu harus bisa mengembangkan pengetahuan. Harus mempergunakan otaknya…. harus mempergunakan akalnya supaya selalu memperbaiki keadaan. Meningkatkan (kualitas) nilai yang ada dalam kehidupan ini.”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)

“Kaligrafi secara umum memiliki tiga sifat yang berturut-turut tergantung kepentingannya, yaitu: jelas bacaannya, mudah menuliskannya, dan indah tampilannya.”
(Habibullah Fada’ili dari Syria dalam Atlas al-Khat wal Khutut)

“Kaligrafi termasuk unsur rupaka dilihat dari watak-wataknya secara umum yang menentukan kesanggupannya mengekspresikan gerak dan akumulasi. Gerak di sini adalah gerak-gerak tarian orisinal secara bebas. Sedangkan akumulasi atau penyusunan huruf sebagai unsur ornamen tergambar dalam tipe-tipe menukik, memutar, bergerak berkeliling secara bebas, dan menyentak.”
(Fauzi Salim Afifi dari Mesir dalam Silsilatu Ta’lim al Khat al-‘Arabi: Dalil al-Mu’allim)

“Di antara kesempurnaan tulisan adalah saat penulis membebaskan tempat-tempat
yang dapat menimbulkan kekeliruan dalam membaca.”
(Fauzi Salim Afifi dari Mesir dalam Silsilatu Ta’lim al Khat al-‘Arabi: Dalil al-Mu’allim)

“Setiap kali aku menggores sebuah baris, hilanglah satu baris dari umurku.”
(Sayid Ibrahim dari Mesir dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa A’lam al-Khattatin)

“Tangan kaligrafer menuntunnya ke surga karena menulis ayat-ayat Alquran.”
(Mus’ad Mustafa Khudir al-Bursaid dari Mesir dalam Koleksi Karya Master kaligrafi Islam)

“Seorang khattat, ketika pikirannya sedang kosong saat berkarya, ia mengembalikan pandangan kepada tulisannya secara bebas, hingga dapat melihatnya dengan gambaran yang bukan gambaran sebelumnya dan mampu menilai sendiri tulisan dan dirinya.”
(Fauzi Salim Afifi dari Mesir dalam Silsilatu Ta’lim al Khat al-‘Arabi: Dalil al-Mu’allim)

“Kehadiran sanggar-sanggar dan aktivitas kaligrafi yang tambah semarak menuntut kehadiran para guru dan pembina kaligrafi yang profesional. Guru atau pembina yang ‘sekedar bisa’ atau ‘asal tahu’, untuk saat ini, sudah tidak memenuhi syarat lagi karena akan terseret-seret oleh anak-anak muda
yang terus bergerak maju.”
(D. Sirojuddin AR dalam Cara Mengajar Kaligrafi: Pedoman Guru)

“Kaligrafi Arab merupakan jenis tulisan yang elastis, tampil dengan bentuk keindahan yang sensitif. Seperti dalam kaligrafi Cina, seorang kaligrafer dalam seni khat memiliki daya sensitivitas yang tinggi di samping kepandaian teknik menulis. Maka, nilai pribadi seniman tampak pada setiap jenis karya seni khat yang menjadi sumber pertumbuhan dari gaya dalam kaligrafi Arab.”
(Wiyoso Yudoseputro dalam Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia)

“Haruslah lahir nuansa-nuansa baru yang memperkuat penciptaan yang lebih menyeluruh, sehingga kelenturan kaligrafi dapat dibuktikan dalam kemungkinan-kemungkinan mengolah dari visi-visinya yang pusparagam. Arus perkembangan ini akan bergerak terus tanpa bisa dibendung.”
(D. Sirojuddin AR dalam Dinamika Kaligrafi Islam)

“Yang pertamakali menerakan Basmalah di awal tulisannya adalah Nabi Sulaiman as. Orang-orang Arab sendiri dalam pembuka kitab-kitabnya mengucapkan Bismika Allahumma hingga turun ayat dalam surat Hud Bismillahi majreha wa mursaha, maka Rasulullah SAW pun menuliskannya sampai turun ayat Qul ud’ullaha awid’ur Rahmana… dalam surat Al-Isra’ atau Bani Isra’il. Setelah itu, turunlah ayat Innahu min Sulaimana wa innahu Bismillahir Rahmanir Rahim yang selanjutnya menjadi amalan yang disunnahkan.”
(Naji Zainuddin dari Irak dalam Musawwar al-Khat al-‘Arabi)

“Seni iluminasi adalah jembatan antara seni kaligrafi dan seni lukis. Walaupun berhubungan dengan kaligrafi, seni lukis (di dunia Islam) dianggap seni yang lamban dan kedudukan pelukis tidaklah
seranking dengan kaligrafer.”
(Philip Bamborough dalam Treasure of Islam)

“Kaligrafi itu seperti lukisan atau musik yang menuntut kesiapan khusus yang tidak bisa diterima oleh
semua orang. Di antara seribu kaligrafer Turki, paling-paling bisa kita sebut sepuluh orang
yang memiliki keunggulan dalam keindahan kaligrafinya.”
(Celal Esad Arseven dalam Al-Lauhat al-Khattiyah fi al-Fan al-Islami)

“Kaligrafi disebut bagus apabila bentuk-bentuk hurufnya indah, dan disebut buruk
apabila bentuk-bentuk hurufnya jelek.”
(Naji Zainuddin dari Irak dalam Musawwar al-Khat al-‘Arabi)

“Keindahan kaligrafi Arab lebih banyak berbicara pada hiasan arsitektur. Kemegahan masjid-masjid besar di negara-negara Islam tidak hanya terletak pada konsep disain arsitekturnya,
tetapi juga pada nilai dekoratifnya.”
(Wiyoso Yudoseputro dalam Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia)

“Kita dapat memastikan, bahwa membentuk seorang kaligrafer lebih sulit daripada membentuk seorang pelukis. Meskipun pelukis telah mencapai tingkat kemampuan, ia takkan sanggup meniru sebuah karya kaligrafi yang indah apabila belum menguasai kaedah penulisan khat yang benar.”
(Celal Esad Arseven dalam Al-Lauhat al-Khattiyah fi al-Fan al-Islami)

“Bagusnya rautan kalam adalah setengah khat, dan mengetahui tatacara memotongnya adalah setengah sisanya. Karena sesungguhnya, setiap gaya khat mempunyai potongan tersendiri.”
(Al-Maqri al-‘Ala’i dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)

“Barangsiapa kurang bagus caranya menorehkan tinta, meraut dan memotong kalam, memposisikan kertas, dan mengatur gerakan tangan waktu menulis, berarti dia sedikit pun tidak mengerti cara menulis.”
(Al-Maqri al-‘Ala’i dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)

“Penguasaan khat adalah indahnya rautan.”
(Ibnu Muqlah dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)

“Khat seluruhnya adalah kalam.”
(Al-Dahhak bin Ajlan dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)



SUMBER : http://sirojuddinar.blogspot.com/2008/11/mutiara-hikmah-kaligrafi.html

UST.K.H. DIDIN SIRAJUDIN, A.R., M.Ag

DIDIN SIROJUDDIN AR lahir di Kuningan, Jawa Barat, 15 Juli 1957. diluar tugasnya sebagai pengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dididn yang melukis sejak sebelum aktif mengembangkan kaligrafi di Indonesia. Dimulai dari belajar menulis khat di Pondok Modern Gontor (1969-1975) hingga menadi wartawan majalah Panji Masyarakat sambil melukis, menulis mushaf Alquran, membuat komik/ilustrasi dan menulis khat untuk buku dan majalah, alat peraga, poster, dan kalender di Jakarta. Tahun 1985 mendirikan Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) di Jakarta, disususl tahun 1998 mendirikan Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi, dua kendaraan perjuangannya yang diiringi aktivitasnya menulis buku-buku kaligrafi, penjurian lomba kaligrafi di MTQ Nasional dan ASEAN, dan berkeliling membina kaligrafi di pelbagai pelosok Indonesia.

Buku Kaligrafi: "Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam"

Penulis : Drs. H. D Sirojuddin AR, M. Ag.
Catakan Pertama : Oktober 2007
Penerbit : Darul Ulum Press, Jakarta
Desain Sampul : Kurnia Agung Robiansyah, SEI (Studio Lemka)
Jumlah Halaman : 574 Halaman
Harga : Rp. 147.500,- (ongkos kirim 20% dari harga buku)

Kaligrafi Arab yang lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi Islam karena kedudukannya sebagai pusat dan puncak seni Islam (art of Islamic art), pada awalnya merupakan sarana ilmu pengetahuan yang berubah menjadi aspek kesenian paling penting yang tumbuh dan berkembang ke aneka gaya atau aliran yang tidak pernah dicapai tulisan-tulisan lain.

Buku Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam ini merupakan usaha yang gigih dalam menstudi kaligrafi hasil karya para master kaligrafi pilihan yang telah dikenal luas dan berpindah-pindah dari dan ke tangan-tangan khattat dan pelukis kaligrafi di pelbagai belahan dunia.

Di dalam buku ini Drs. H. D. Sirojuddin AR, M. Ag membahas kilas sejarah dan pembagian ragam jenis kaligrafi islam secara terperinci dan lebih mendalam, dilengkapi dengan 900 lebih contoh karya para master kaligrafi islam, mulai dari Khat Naskhi yang terbagi kepada: Khat Naskhi Qadim dan Khat Naskhi Suhufi; Khat Sulus yang terbagi kepada: Khat Tumar, Khat Muhaqqaq, Khat Rayhani, Khat Tawqi, Khat Riqa atau Ruqa, Khat Sulusaini, Khat Sulus Musalsal, Khat Sulus Adi, Khat Sulus Jali, Khat Sulus Mahbuk, Khat Sulus Muta’assir bil Rasm, Khat Sulus Mutanazhir; Khat Diwani yang terbagi kepada: Khat Diwani Adi, Khat Diwani Mutarabit, Khat Diwani Jali; yang terbagi kepada: Khat Diwani Jali Mahbuk, Khat Diwani jali Humayuni, Khat Diwani Jali Zauraqi; Khat Farisi yang terbagi kepada: Khat Ta’liq atau Khat Farisi Ta’liq, Khat Nasta’liq, Khat Syikasteh, Khat Farisi Mutanazir, Khat Farisi Mukhtazal, Khat Farisi Mir’at; Khat Kufi yang terbagi kepada: Khat Kufi Basit, Khat Kufi Musattar, Khat Kufi Mutalasiq, Khat Kufi Muwarraq, Khat Kufi Muzakhraf, Khat Kufi Madfur, Khat Kufi Muzayyin Nafsah, Khat Kufi Muta’assir bil Rasm, Khat Kufi Andalusi, Khat Kufi Fatimi, Khat Kufi Ayubi, Khat Kufi Mamluki; dan Khat Riq’ah.

Dengan menampilkan para tokoh beserta karya-karya dan latar belakang pendidikan, guru dan muridnya, karir kaligrafi hingga pandangan hidupnya, buku yang merupakan Ensiklopedi Kaligrafi Islam ini penting dijadikan pegangan oleh para khatat, pelukis kaligrafi, pemerhati dan aktivis kegiatan lomba kaligrafi yang kini semakin marak dalam sekup Nasional dan Internasional.

Untuk pemesanan hubungi:
Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) Jakarta
Tlp./Fax +6221 7496279
Email: lemkanet@yahoo.com

DAFTAR HARGA PERALATAN KALIGRAFI




DAFTAR HARGA PERALATAN DAN BUKU KALIGRAFI
PESANTEREN KALIGRAFI ALQURAN LEMKA
SUKABUMI, JAWA BARAT


NO.

NAMA BARANG

HARGA
 (Rp)

KET.
1
Asah Asuh Huruf
26500
Tersedia
2
Belajar Kaligrafi Islam jilid  1
5500
Tersedia
3
Belajar Kaligrafi Islam jilid  2
8000
Tersedia
4
Belajar Kaligrafi Islam jilid  3
8500
Tersedia
5
Belajar Kaligrafi Islam jilid4
7000
Tersedia
6
Belajar Kaligrafi Islam jilid  5
13000
Tersedia
7
Belajar Kaligrafi Islam jilid6
14000
Tersedia
8
Belajar Kaligrafi Islam jilid7
31000
Tersedia
9
Cara Mengajar Kaligrafi (Pedoman Guru)
18000
Tersedia
10
Curatcoret Coretcoretan Bukanasal Coret
11000
Tersedia
11
Gores Kalam Butir-butir Pemikiran Pengembangan Klg di Indonesia
17500
Tersedia
12
Kaligrafi Arab Peralihan Peran dari Kufi ke Naskhi
8500
Tersedia
13
Kaligrafi Hitam Putih D. Sirojuddin AR
28000
Tersedia
14
 Katalog Turki: Hasyim Muhammad (hard cover)
35000
Tersedia
15
Katalog Turki: Hasyim Muhammad (soft cover)
30000
Tersedia
16
Khat Naskhi Kebutuhan Primer Baca Tulis
9500
Tersedia
17
Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam
147500
Tersedia
18
Koleksi Peraduan Khat ASEAN
30000
Tersedia
19
Latihan Melukis Kaligrafi dr hitam putih ke warna
9500
Tersedia
20
Membina Kaligrafi Gaya Lemka
8500
Tersedia
21
Mewarnai kaligrafi Jilid 1-7
@ 17000
Tersedia
22
Pak Didin Menabur Ombak Kaligrafi
27500
Tersedia
23
Panduan Teknik pengolahan Hiasan Mushaf
20000
Tersedia
24
Sekeliling Festival Istiqlal II 1995
17500
Tersedia
25
Seni Kaligrafi Islam
20000
Tersedia
26
Seni Kaligrafi Islam di Indonesia
6500
Tersedia
27
Tafsir Al-Qalam
20000
Tersedia
28
Teknik Pengolahan Kaligrafi Dekorasi
17500
Tersedia
29
Qawaid Khat al-Arabi; Hasyim Muhammad (hard cover)
35000
Tersedia
30
Qawaid Khat al-Arabi; Hasyim Muhammad (soft cover)
30000
Tersedia

B. Peralatan Tulis dan Lukis

NO.

NAMA BARANG

HARGA
(Rp)

KET.
31
Cat Mowilex Putih
9000
Tersedia
32
Cat Mowilex Warna
10000
Tersedia
33
Cat Meries
40000
Tersedia
34
Handam panjang
5000
Tersedia
35
Handam pendek
3000
Tersedia
36
Handam pendek (sudah dipotong miring)
4000
Tersedia
37
Kuas Eterna No. 1
1200
Tersedia
38
Kuas Eterna No. 2
1300
Tersedia
39
Kuas Eterna No. 3
1400
Tersedia
40
Kuas Eterna No. 4
1600
Tersedia
41
Kuas Eterna No. 5
1700
Tersedia
42
Kuas Eterna No. 6
1900
Tersedia
43
Kuas Eterna No. 7
2100
Tersedia
44
Kuas Eterna No. 8
2300
Tersedia
45
Kuas Eterna No. 9
2400
Tersedia
46
Kuas Eterna No. 10
2500
Tersedia
47
Kuas Eterna No. 11
3000
Tersedia
48
Kuas Eterna No. 12
3100
Tersedia
49
Kuas Mofit Besar
2500
Tersedia
50
Kuas Mofit Kecil
2000
Tersedia
51
Pena kaligrafi
10000
Tersedia
52
Penghapus Boxy Besar
10000
Tersedia
53
Penghapus Boxy Kecil
7000
Tersedia
54
Pensil Faber Castell
2500
Tersedia
55
Pensil kapur
20000
Tersedia
56
Ring Color (Teori Warna)
55000
Tersedia
57
Tempat Tinta Atom Bulat
17000
Tersedia
58
Tinta China biasa (Yamura)
3000
Tersedia
59
Tinta China botol panjang
40000
Tersedia
60
Tinta Rotring
30000
Tersedia

C. Cindera Mata

NO.

NAMA BARANG

HARGA (Rp)

KET.
61
Kaos Lemka lengan  panjang, tidak berkerah                  
 5.000,00
Tersedia 
62
Kaos lemka lengan panjang, berkerah (1 stel dengan training),   
75.000,00
 Tersedia

Keterangan:
 Harga sewaktu-waktu dapat berubah
 Pemesanan Alat dan buku diatas dapat dipesan melalui
Syamsul Rizal 


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 

About Me

My Photo

Kegiatan Mengajar khat di Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka dan sering menerima panggilan/order untuk membuat kaligrafi di masjid-masjid

Followers